b’ Q, elav   Leave a comment

the mona lisa

ni lho orang menarik kambingnya………………

Posted February 13, 2010 by bijshoumul in CeriTaKoe

Tagged with

TARIAN SPIRITUAL “WHIRLING DERVISHES” MENURUT JALALUDDIN RUMI   Leave a comment

A. PENDAHULUAN
Telah banyak ritual yang diwariskan oleh para leluhur kita. Ritual-ritual tersebut sangatlah beragam, seperti musik, tarian, pakaian dan berbagai macam adat istiadat lainnya. Semua itu adalah warisan leluhur yang perlu dilestarikan dan dijaga sebaik mungkin karena hal tersebut merupakan tapak sejarah yang tidak bisa dibuang begitu saja dari peradaban.
Berbicara mengenai warisan leluhur, ada satu hal menarik yang menjadi fokus pembicaraan kita yaitu mengenai tarian spiritual yang diiringi dengan dzikirullah dan dibahasakan melalui gerak tubuh. Seni tari merupakan wahana ekspresi, sebuah harmonisasi tubuh dan pikiran melalui gerakan-gerakan yang didalamnya terkandung spirit akan identitas yang merupakan perwujudan dari suatu filosofi, nilai, sejarah serta tradisi dan budaya tertentu.
Tari juga sering disebut sebagai “beksa” yaitu “ambeg” dan ”esa”, yang berarti tujuan yaitu menyatunya jiwa dengan pengungkapan wujud gerak yang selaras (Rimba, 2009: Tanpa halaman). Dengan kata lain, seni tari bisa juga disebut sebagai salah satu media komunikasi, baik antara makhluk dengan sesama makhluk ataupun makhluk kepada pencipta-Nya.
Di dalam tubuh manusia terdapat irama yang harmonis, seperti halnya alam semesta yang juga berirama. Nada-nada alam semesta yang tertangkap oleh kepekaan rasa diungkapkan menjadi nada-nada. Lewat nada-nada musik tersebut manusia melakukan pemujaan dan perenungan spiritual. Nada-nada musik bukan sekedar seni, tetapi merupakan bahasa jiwa, spirit kehidupan, musik Sang Maha Pencipta, bahasa pertama yang menjadi asal muasal kehidupan. Sebagai media dan bentuk komunikasi universal, nada-nada musik melewati bahasa verbal, diterima indera pendengaran, diteruskan ke hati sebagai pusat rasa. Kemudian dengan rasa itulah, maka nada-nada musik melewati batas-batas etnis, agama, komunitas dan Negara.
Tarian ini bukan hanya dimainkan secara lemah gemuai oleh para selir yang berada di kerajaan atau sinden-sinden dalam acara wayang. Namun, tarian spiritual ini juga dimainkan oleh mereka pengikut ajaran tarekat maulawiyyah yang dipelopori oleh seorang sufi sekaligus penyair masyhur yang karya-karyanya masih banyak digandrungi oleh orang-orang zaman sekarang. Dia yang biasa dikenal dengan sebutan Jalaludin Rumi. Pendiri sebuah tarekat yang bukan hanya diikuti oleh kaum muslim, namun akhir-akhir ini juga diikuti oleh orang-orang barat. Tarian spiritual ini disebut dengan sema yakni sebuah tarian untuk mengekspresikan penghambaan seorang hamba kepada sang pencipta. Sema adalah satu praktik ritual yang menjadi ciri khas sebuah tarekat yang digandrungi di banyak kalangan, baik di dunia muslim maupun non muslim.

B. LANDASAN TEORI
a. Biografi Jalaluddin Rumi
Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh.
Adanya berbagai bentrokan di kerajaan membuat Rumi beserta keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khurosan. Saat itu, Rumi berusia 3 tahun. Dari sana Rumi kemudian dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan alhi matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan. Sebagian besar riwayat perjalanan hidup Rumi dihabiskan di Konya (Kini Turki), yang dahulu dikenal dengan sebutan Rum (Roma).
Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi juga seorang tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya. Rumi adalah guru nomor satu Thariqat Maulawiah, sebuah thariqat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Thariqat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman sekitar tahun l648. Dari thoriqot inilah, kemudian berkembang suatu tarian spiritual yang dikenal whirling dervishes di barat atau dalam bahasa Turki disebut dengan sema, yang mana namanya diambil dari ciri utama tarekat ini.
Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Di zamannya, umat Islam memang sedang dilanda penyakit itu. Bagi mereka kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, dengan cepat mereka ingkari dan tidak diakui.
Padahal menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan Iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah (Penyair, 2007: Tanpa halaman).
Rumi mengatakan, “Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu’tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya”.
Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. “Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?” tegas Rumi.

b. Ritual Sema
“Sudah terlalu banyak kau menari untuk dunia. Kini saatnya kau menari bagi ‘Sang Kekasih’. Jangan lagi kau mengajar bayang-bayang semata. Pasrahkan dirimu pada Allah.” (Rumi)
Ekspresi untuk mencintai Allah tidak hanya bisa diekspresikan melalui ibadah dalam bentuk mahdhoh yang umumnya dilakukan oleh umat muslim. Maulana Jalaluddin Rumi, ratusan tahun yang lalu telah memberikan warisan berharga bagi seluruh umat. Salah satu karyanya adalah SEMA yaitu sebuah ekspresi dan rasa cinta, kasih dan sayang yang tinggi dari seorang hamba kepada Sang Robbi melalui sebuah ritual suci yakni whirling dervishes, tarian keliling yang berlawanan dengan arah jarum jam untuk mengajak hati, akal, ruh dan pikiran untuk memuji-muji tuhan dengan 99 asmaul husna dan dzikir-dzikir lainnya yang dilanjutkan dengan menari berputar-putar ratusan, bahkan ribuan kali sampai gerakan menari ini sampai pada puncak kebahagiaan dan keni’matan.
Salah satu maha karya Rumi ini juga disebut dengan Sufi Mehfil, sebuah tarian yang dipopulerkan bersama komunitas Mevlevi Order yang merupakan sebuah tarian dalam tradisi sufi yang bermakna sebagai pesta para sufi. Tarian ini dilakukan secara bersama bersama oleh sejumlah penari dibawah bimbingan seorang Mursyid. Gerakan yang ada dalam tarian itu menunjukkan kesedian para pecinta tuhan untuk masuk ke dalam diri dan marasakan kenikmatan yang tak mampu untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Pesta para sufi ini lahir manakala seorang pencari tuhan bertemu Sang Kekasih Yang Maha Suci. Ketika merasakan kasih yang ada dalam hati dan dalam diri meletup-letup, maka perasaan ini akan ditransfer menjadi energi gerak dalam bentuk menari. Tarian yang dilakukan adalah sebuah ekspresi untuk merayakan kehidupan. Konon, ketika menari seperti itu, para penari mengalami eksate yang dikalangan para sufi dipahami sebagai tingkat pencapaian perasaan penyatuan dengan Tuhan. Bahkan, ada pula yang mengaku gerakan yang tercipta, seolah-olah bukan dari diri si penari. Dari kisah inilah yang membuat seorang pencari Tuhan seperti seperti Rumi memiliki jiwa sangat lembut. Dirinya tidak lagi bisa membenci atau melihat perbedaan suku ras maupun agama.
Gerak tari yang berputar dalam whirling dervishes ini merupakan perlambang dinamis dari sebuah struktur kehidupan yang berlapis. Seperti layaknya tata surya. Dimana, antara unsur (planet) yang satu dengan unsur yang lain masing-masing berotasi. Berputar pada porosnya sendiri-sendiri. Kendati demikian, antarmereka tetap memiliki gaya tarik yang justru merupakan unsur dari keseimbangan sistem tata surya itu sendiri.
Ibarat ilmu fisika whirling dervishes seperti susunan electron, proton, dan neutron yang berada dalam inti atom. Masing-masing dari mereka terus berputar (bergerak dinamis) untuk mencapai sebuah kesempuranaan susunan atom yang dikehendaki. Semuanya begitu alamiah. Begitu pula dengan tarian spiritual ini. Ia merupakan perputaran yang menggerakan semua unsur manusia untuk meraih sebuah kesempurnaan. Nah, hasil yang konon bisa dilihat secara kasat mata adalah menurunnya ego seseorang. Ujung-ujungnya, ia akan bersikap lebih arif kepada sesama (viola, 2009: Tanpa halaman).
Seperti halnya karya-karya seni yang lain, whirling dervishes pun memiliki bagian-bagian yang mengandung makna filosofis yang cukup dalam. Hiasan di kepala (topi) misalnya. Ia adalah simbol nisan yang kelak dipakai manusia setelah mati. Pun dengan kemeja dan rok putih yang dikenakan para penari. Kain putih adalah simbol kain kafan yang nantinya bakal dibalutkan ke tubuh manusia ketika ia dikuburkan. Sementara, jubah hitam yang biasanya juga dikenakan penari, konon berarti sebagai energi negatif (black spiritual). Dalam dinamika whirling drvishes, sisi gelap yang menempel pada hati manusia tersebut bakal ditarik oleh kedua makna dari simbol sebelumnya, batu nisan dan kain kafan. Lalu, manusia akan dilahirkan kembali kepada kenyataan hidupnya. Dan, hidup yang hakiki adalah setelah mati. Bekalnya, hati yang bersih.
Gerakan awal sema dimana penari menahan tangannya menyilang adalah simbol dari kesaksian Tuhan Yang Maha Esa. Dialah dzat yang memulai segala sesuatunya di langit dan bumi ini. Sementara, ketika berputar, tangan kanan yang mengarah ke atas (langit) adalah pertanda si penari siap menerima energi enlightment (pencerahan) dari Sang Pencipta. Sedang, tangan kiri yang menjuntai ke bawah merupakan simbol penyebaran energi positif sekaligus menyerap energi negatif dari dan ke setiap hati manusia yang berada disekeliling penari. Inilah jalan spiritual Tuhan memberikan nur dan hidayah-Nya kepada setiap hati manusia dalam tari spiritual sema.
Tak hanya itu, rampak gendang atau tambur yang dipukul para musisi pun mengandung makna. Suara alat musik tersebut merupakan simbol dari kehendak Tuhan kepada setiap makhluk-Nya. Ketika Tuhan berkehendak, maka jadilah segala sesuatu di bumi ini. Sementara, improvisasi alat musik yang lain merupakan simbol dari nafas awal yang diberikan Tuhan kepada manusia. Ketika dalam rahim, Tuhan telah meniupkan ruh kepada bayi yang akan dilahirkan. Itu adalah awal sebuah kehidupan.
Ucap salam atau tabik dari para penari kepada orang-orang di sekelilingnya merupakan simbol dari sebuah penghormatan (salam kenal) kepada jiwa-jiwa yang dahaga. Jiwa-jiwa yang merindukan kedamaian. Sebetulnya, di dalam tabik tersebut, terdapat pesan-pesan tentang kesaksian eksitensi ke-Esaan Tuhan, pengorbanan (pikiran) untuk cinta sejati, dan takdir manusia sebagai pelayan Tuhan, Al Quran, serta pelayan bagi seluruh umat di dunia ini. Praktiknya, ketika manusia kembali dari perjalanan spiritualnya—yang dilakukan melalui whirling dervishes—, maka, ia harus siap menjadi pengabdi bagi Tuhan-nya, Kitab-nya, juga bagi setiap mahkluk ciptaan Tuhan. Karena itu, segala doa dan puja puji yang dipanjatkan adalah untuk kebaikan dan kemuliaan jiwa-jiwa dahaga di seluruh muka bumi ini agar menjadi lebih sempurna.
Menurut Talat Said Halman (peneliti karya-karya Rumi), sang sufi di suatu pagi semasa hidupnya pernah berkata pada putranya Sultan Walad akan tiba saatnya, “ketika Konya menjadi semarak dan makan kita tegak di jantung kota. Gelombang demi gelombang khalayak menjenguk mouseleum kita menggemakan ucapan-ucapan kita”. Dan waktu kemudian berlayar, melintasi tahun dan abad. Konya seakan terlelap dalam debu sejarah. “Tetapi, kota Anatolia Tengah ini tetap berdiri sebagai saksi kebenaran ucapan Rumi” (Shalimow, 2009: Tanpa halaman).
Sampai pada akhir hayatnya, 17 Desember 1273 M, Jalaluddin Rumi tak pernah berhenti untuk menari karena beliau tak pernah berhenti untuk mencintai Allah. Melalui tarian sema itu juga yang membuat namanya harum dikenang zaman.
Setelah wafatnya Rumi, tarekat Maulawiyah (beserta ritual-ritualnya) berlanjut terus di bawah pimpinan Syaikh Husamuddin Hasan bin Muhammad, salah seorang sahabat karib Rumi, yang juga dijadikan Rumi sebagai khalifah setelah kepergian Shalahuddin. Husamuddin adalah orang yang memberinya dorongan dan inspirasi sehingga lahirlah sebuah karya yang menjadi magnum opus Rumi , yakni Matsnawi. Kitab ini terdiri dari enam jilid dan berisi 25.000 untaian bait bersajak.
“Jika kau menulis sebuah buku seperti Ilahiname milik Sanai atau Mantiq at-Thayr milik Fariduddin Attar, niscaya hal tersebut akan menarik minat sekumpulan penyanyi keliling. Mereka akan mengisi hatinya dengan apa yang ditulis dan musik akan digubah untuk mengiringinya”, demikian saran Husamuddin kepada Rumi di sebuah kebun anggur Meram di luar Konya. Bersama Husamuddinlah Matsnwi tercipta. Sehingga, karya monumental ini dikenal pula dengan sebutan Kitab-i Husam (Bukunya Husam).
Terpesona dengan kandungan dari karya tersebut, seorang orientalis Inggris bernama R.A Nicholson yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengkaji karya Rumi mengatakan, Matsnawi adalah sungai besar yang tenang dan dalam, mengalir melalui banyak dataran yang kaya dan beragam menuju samudera tak bertepi. Matsnawi di mata para pengikut Rumi dianggap sebagai uraian makna batin Al-Quran, Sementara Abdurahman Jami, penyair asal Persia menyebut karya Jalaluddin Rumi sebagai Al-Quran dalam bahasa Persia. Tarian Ritual sema ini dibahas pada bab ketiga dalam bukunya matsnawi, “Tatkala gendang ditabuh, serta merta sebuah rasa ekstase merasuk laksana buih yang meleleh dari debur sang ombak”.
Setelah Husamuddin wafat, tarekat Maulawiyah berlanjut di bawah kepemimpinan putera tertua Rumi, Sultan Walad. Di tangan puteranyalah tarekat ini mulai terorganisir dengan baik, hingga ajaran ayahnya tersebut menyebar ke seluruh penjuru negeri. Selain di Eropa, kini tarekat Maulawiyah sudah merambat ke dataran Amerika hingga ke benua Asia.
Sekian abad lamanya pertunjukan Sema menarik perhatian para pengembara spiritual, hingga lahir catatan-catatan penting tentangnya. Dalam bukunya yang berjudul Islamic Art and Spirituality, Seyyed Hossein Nasr mengatakan bahwa Sema diawali dengan nostalgia tentang Tuhan, berlanjut dengan keterbukaan sedikit demi sedikit terhadap limpahan karunia dari surga, setelah itu mengalami keadaan ekstase (fana), lebur bersama Al-Haqq. (Srigemilang, 2009: Tanpa halaman)
Realitas sejarah telah menjadi saksi dari pertanyaan Sang sufi lebih dati 8 abad. Rumi bagaikan bayangan yang abadi mengawal Konya, terutama untuk pada pengikutnya, the whirling dervishes para darwis yang menari menjadi komunitas yang mulai menyebar diseluruh dunia. Setiap tahun dari 2-17 desember, jutaan peziarah menyemut menuju Konya. Dari delapan penjuru mata angin mereka berarak untuk memperingati kematian Rumi, 801 tahun silam.

C. KESIMPULAN
Tahun 1244, saat berusia 37 tahun, Rumi sudah berada di atas semua ulama di Konya. Ilmu yang dia timba dari kitab-kitab Persia, Arab, Turki, Yunani dan Ibrani, membuat dia nyaris ensiklopedis. Gelar Maulana Rumi (Guru bangsa Rum) pun dia raih. Tapi, di sebuah senja Oktober, sehabis pulang dari madrasah, seseorang yang tak dia kenal, menjegat langkahnya, dan menanyakan satu hal. Mendengar pertanyaan itu, Rumi langsung pingsan. Sebuah riwayat mengatakan, orang tak dikenal itu bertanya, “Siapa yang lebih agung, Muhammad Rasulullah yang berdoa, ‘Kami tak mengenal-Mu seperti seharusnya’atau seorang sufi Persia, Bayazid Basthomi yang berkata, ‘Subhani, mahasuci diriku, betapa agungnya kekuasaanku’”. Pertanyaan mistikus Syamsuddin Tabriz itu mengubah hidup Rumi. Dia kemudian tak lagi terpisahkan dari Syams. Dan di bawah pengaruh Syams, ia menjalani periode mistik yang nyala, penuh gairah, tanpa batas, dan kini, mulai menyukai musik. Mereka menghabiskan hari bersama-sama, dan menurut riwayat, selama berbulan-bulan mereka dapat bertahan hidup tanpa kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, khusyu’ menuju Cinta Ilahiah, akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Kecemburuan warga Konya, membuat Syams pergi. Dan saat Syams kembali, warga membunuhnya. Hal ini, Rumi merasa sangat kehilangan guru terbesar yang dia gambarkan seperti kehidupan kehilangan mentari. Sehingga, suatu pagi, seorang pandai besi membuat Jalaluddin menari. Pukulan penempa besi itu, Shalahuddin, membuat dia ekstase, dan tanpa sadar mengucapkan puisi-puisi mistis, yang berisi ketakjuban pada pengalaman-pengalamannya. Rumi pun kemudian bersabahat dengan Shalahuddin, yang kemudian menggantikan posisi Syams. Dan era menari pun dimulai Rumi, menari sambil memadahkan syair-syair cinta Ilahi. “Tarian para darwis itulah yang kemudian menjadi semacam bentuk ratapan Rumi atas kehilangan Syamsjelas Talat. Sampai meninggalnya, 17 Desember 1273, Rumi tak pernah berhenti menari, kerana dia tak pernah berhenti mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuat peringkatnya dalam inisiasi sufi berubah dari yang mencintai jadi yang dicintai.

DAFTAR PUSTAKA
Wines, Leslie, 2004, Menari Menghampiri Tuhan, Bandung: Mizan
Arberry, 2002, Inilah Apa Yang Sesungguhnya (Fihi Ma Fihi), Surabaya: Risalah Gusti
http://bacamatahati.blogspot.com/2009/06/liukan-spiritual-ala-rumi.html, Selasa, 30 Juni 2009
http://www.shalimow.com/islam/sufi-mehfil-jalaludin-rumi.html, 28 Oktober 2009

http://srigemilang.web.id/blog/?p=209

http://penyair.wordpress.com/2007/03/29/biografi-jalaludin-rumi/

Posted February 10, 2010 by bijshoumul in m4k4l4h

G’ Narsis, G’ Eksis   1 comment

Agak sulit memang, tapi aku harus tahu, begitulah caraku jika dihadapkan pada suatu tantangan. sok tahu, anggep aja gitu. nah, klo ditanya kenapa??? soale dengan sok tahu kadang aku jadi bener-bener tahu, ya… kan emang harus gitu, iya nggak???? ada tantangan gitulah,, sebenarnya pengen nulis banyak, tapi rada keburu-buru nih,,, mo nguji dulu yo..!!!!

Posted February 10, 2010 by bijshoumul in CeriTaKoe

Topiknya Muter-Muter   2 comments

Pagi-pagi habis olahraga trus sarapan Pop Mie hangat sama susu. (Wish.. enak banget tuh!!!!) rasanya hampir sama kayak ada dirumah, tinggal pilih apa yang diingkan. (tapi nggak juga sih, dirumah juga kadang2 sarapannya itu-itu aja kok). cuma agak didramatisir aja, hehehe

(Rabu, 4/11/09) nggak ada jam ngajar,,, hari free buat aku. jadinya kerjaannya cuma keliling-keliling aja. dari satu tempat ke tempat yang lain. ya.. biasalah, makhluk Tuhan yang paling seksi ini emang hoby jalan-jalan sih. walaupun areanya cuma sekitar sini aja!! tapi itu udah jadi hiburan tersendiri buat aku yang emang lingkungannya hanya lahan sekitar 20 H ini. (klo nggak salah sih..).

Jalan_-_ jalan_-_ jalan_-_ …. (duh, lama-lama capek juga ya…!!!!) akhirnya tempat istirahat yang paling tepat n strategis plus bikin aku agak sedikit nyantai, ya… di sebuah bangunan baru, yang awalnya merupakan konter pulsa yang sudah mengalami kemunduruan sekitar 5 meter dari bangunan sebelumnya,,, (bukan berarti mundur kwalitasnya lho… hehehe). sebut saja bangunan itu, “konveksi”. Disitulah, kadang-kadang aku belajar jahit dan sekalian nyoba belajar berdagang. biasalah calon pengusaha sukses,, Amien…. jadi harus belajar dari sekarang biar nggak kaku.. hehehe…

Siangnya, aku kuliah, cuma mata kuliahnya kurang seru coz dosennya terlalu pinter sih,,,. udah gitu suasananya lumayan panas, pas didekat kaca yang lagi kena terpaan panasnya matahari sore… duh, jadi BT nih. Untung kuliahnya nggak terlalu tegang, jadi meski agak sedikit BT tapi masih bisa dinetralisir.

Rabu Sore, ya.. pastinya kumpul evaluasi n target-terget yang harus dilakukan dalam 1 minggu berikutnya. acaranya biasa dikenal dengan acara “rabuan”. sama persis kayak nama Pasar Rabuan di Prenduan city. Pasar yang bisa dibilang sempit tapi klo jalan muter-muter bikin cuuuapek (namanya juga muter-muter,,,), dibilang lebar tapi ukurannya hampir sama kayak ukuran lapangan sepak bola di desa ini, mungkin cuma sekitar 50 x 50 M doang (alah… sok tahu nih). Eh,, kok jadi ngomongin pasar.

OY, balik ke topik, “Kumpul Rabuan”… kumpul kali itu dihadiri Pimpinan dan Pengasuh, hanya saja sangat disayangkan karena ada sebagian kecil guru yang punya pengaruh yang cukup besar, nggak bisa hadir karena berhalangan. padahal, kehadiran mereka saat itu sangat diharapkan,,,, (heheh.. jadi mendramatisir nih!!!)

duh… tiba2 aja setelah makan malam, aku ngrasa sakit perut banget!!! ehm.. tidur ah, kayaknya bakal lumayan lama nih coz sebelumnya nggak pernah ngrasa sakit kayak gini sih. Paling-paling nih karena salah makan kali, tapi makan apa ya??? kan aku makannya bareng-bareng, kok yang lain baik-baik aja. Ya udahlah, mo tidur aja biar sakitnya nggak terasa. Tidur nyenyak, nyampek nggak terasa diciumin banyak nyamuk. Ehm.. ya udah, mo tidur dulu ya!!!! Ngantuk nih,,,, ^_^

Posted November 5, 2009 by bijshoumul in CeriTaKoe

Datang Tidak Pada Saatnya   1 comment

Memang tidak pernah disangka, jika tiba-tiba ada seseorang yang datang dengan segenap rasa. Dengan keseriusan yang sungguh karena waktu terus berjalan, umur terus bertambah dan lekukan-lelukan di wajah akan semakin terlihat.

Saat itu, bukanlah saat yang tepat jika kita harus mengatakan bahwa kita masih belum cukup umur, menganggap bahwa kita masih terlalu kecil untuk memikirkan hal tersebut karena bagaimanapun juga, hal ini suatu saat akan datang. Hanya saja kenapa harus sekarang??? kenapa Ahmad harus datang saat Aisy masih ingin menggapai cita-citanya, menjadi teladan bagi adik-adiknya dan saat dia masih mempunyai berjuta-juta harapan untuk membahagiakan orang tuanya karena apa yang telah Aisy lakukan, bukan karena menyerah kepada kenyataan. kenyataan karena Aisy harus menerima Ahmad sebagai pendamping hidupnya.

kalau dilihat dengan seksama, Ahmad adalah sosok orang yang baik, cerdas, tampan dan mungkin bisa dibilang hartawan. Ahmad juga mempunyai nasab yang baik karena jasa orang tuanya kepada sebuah lembaga pendidikan atau bisa dibilang dia adalah salah satu putra mahkota di tempat Aisy bersekolah. Sehingga, segalanya dapat dia miliki. Hanya saja, untuk mendapatkan hati seorang Aisy itu bukanlah hal yang mudah.

Aisy seorang gadis tangguh, sang wonder women yang telah mempunyai banyak target untuk karir hidupnya, yang nggak akan menyerah begitu saja karena tradisi keluarga. Sekarang bukanlah zaman siti nurbaya yang orang tua bisa dengen paksa menjodohkan anak-anaknya. Walaupun mereka punya andil dalam menentukan siapa yang paling tepat untuk Aisy tapi nggak harus sekarang, akan tiba saatnya ketika Aisy harus mengiyakan siapakah yang akan menjadi calon pendamping hidupnya.

“Allahumma Ahsin ‘Aqibatana Fi Umuri Kulliha”

Posted November 4, 2009 by bijshoumul in CeriTaKoe

Target Adalah Pelita   1 comment

ketika kita telah menentukan target apa saja yang akan kita jalani, misalnya dalam sehari aja…. hidup kita akan terasa penuh makna terlebih-lebih jika target-target tersebut terpenuhi seluruhnya. Wah,,,, yang jelas bakal kita bakal ngrasa seneng banget.. nyampek nggak bisa digambarin nih saking senengnya…

Ana ngomong kayak gini, soalnya Ana udah buktikan ini berkali-kali. sehingga, jika sekali aja ana nggak buat target, ana ngrasa ada yang kurang. ana jadi males mo ngapa2in, jadi BT (Butuh Temen, Butuh Tho’am, Bau Tengik, Bau Trasi dll), pokoknya males banget deh….

makanya……. cepet buktiin, mulai dari yang sederhana ato yang kecil-kecil aja dulu. tar klo udah dilaksanain dengan baik, baru nyoba buat target yang besar. Insya-Allah dengan begitu, hidup kita akan terarah. kemungkinan untuk menggapi mimpi-mimpi kita akan semakin mudah karena apa yang kita lakuin sebagian berawal dari mimpi-mimpi kita. meskipun terkadang mimpi saja nggak cukup untuk ngubah kenyataan, tapi kan masih mending pernah mimpi dari pada tidak sama sekali ^_^….. Yang penting konsisten kok, jangan nyampek ada istilah anget-anget tai ayam. maksudnya, awal-awalnya aja yang semangat tapi setelahnya ngedrop… konsisten itu satu hal yang agak sulit dilakukan tapi nggak ada sesuatu yang nggak mungkin. positif thinking aja deh walaupun ada istilah lain yang nyebutin su’udzon huwa ‘ismatun. walaupun demikian… Insya-Allah positif thinking jauh lebih besar manafaatnya..

TARGET ADALAH PELITA YANG AKAN MENGHIASI HIDUP KITA DAN AKAN MENGGIRING KITA MENUJU KESUKSESAN, ^_^ AMIEN

Posted June 11, 2009 by bijshoumul in CeriTaKoe

AHIRNYA SELESAI JUGA   1 comment


Read the rest of this entry »

Posted May 7, 2009 by bijshoumul in CeriTaKoe

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.